Perbedaan Homeshooling SMA dengan Sekolah Formal

Metode pembelajaran homeschooling SMA semakin banyak dilirik oleh orang tua sebagai metode alternatif pendidikan anak. Apalagi dengan metode ini, orang tua dapat memilih sendiri pengajar dan kurikulum yang dianggap sesuai untuk sang anak. Dilakukan secara mandiri di rumah, tentu homeschooling memiliki berbeda dengan sekolah formal walaupun secara legalitas, keduanya memiliki kedudukan sama dan diakui oleh negara.

Pendidikan Homeschooling SMA dan Bedanya Dengan Sekolah Formal

Homeschooling sebenarnya bukanlah metode baru, bahkan sudah dikenal sejak tahun 1960an. Di Indonesia sendiri, homeschooling semakin berkembang dan semakin banyak orang tua merasakan manfaatnya. Lalu, apa beda homeschooling dengan sekolah formal? Simak penjelasan berikut ini.

Materi Pembelajaran

Di sekolah formal, materi ditentukan oleh sekolah berdasarkan kurikulum pemerintah. Peserta didik hanya tinggal mengikutinya saja. Sementara itu pada homeschooling, orang tua dan anak dapa memilih kurikulum sendiri. Selain materi untuk ujian, anak dapat belajar materi lain sesuai dengan usia dan minat mereka.

Lingkungan Tempat Belajar

Saat pergi belajar ke sekolah formal, anak belajar di kelas dengan guru dan teman-teman sebayanya. Ada aturan dan tata tertib yang berlaku di mana semua siswa harus menaatinya. Selain itu, terdapat fasilitas yang memadai seperti laboratorium, perpusatakaan, dan aneka ragam media pembelajaran. 

Berbeda dengan suasana di sekolah, homeschooling dilaksanakan di rumah di mana orang tua memiliki kontrol penuh terhadap lingkungan belajar anak. Fasilitas yang tersedia mungkin tidak selengkap di sekolah formal dan interaksi sosial juga minim, namun kelebihannya adalah orang tua dapat memperkecil risiko gangguan belajar.

Perhatian Terhadap Anak

Di sekolah formal, biasanya terdapat belasan hingga puluhan siswa dalam satu kelas dengan hanya 1 orang guru. Hal ini merupakan kesulitan tersendiri bagi guru. Pasalnya, setiap anak memiliki karakteristik dan kemampuan berbeda-beda. Bisa jadi, ada beberapa anak yang luput dari perhatian, apalagi jika anak-anak tersebut memiliki karakter pendiam dan segan bertanya.

Sebaliknya, pada homeschooling, jumlah murid hanya sedikit bahkan hanya 1 orang anak (jika menerapkan metode tunggal). Artinya, perhatian guru terpusat pada 1 orang saja.

Perkembangan Sosial Anak

Di sekolah formal, anak belajar dengan teman-teman sebayanya sehingga kemampuan sosial anak berkembang dengan baik. Mereka dapat berinteraksi satu sama lain. Banyak hal yang bisa dipelajari dari interaksi sosial mulai dari sikap menghargai orang lain, kemampuan memimpin, menyelesaikan masalah dalam kelompok, dan masih banyak lagi.

Karena belajar hanya dengan guru saja, anak mungkin lebih sulit mendapat pengalaman bersosialisasi saat belajar di rumah. Namun, hal ini bisa diakali dengan banyak mengajak anak beraktifitas di luar dan berinteraksi dengan orang lain melalui kegiatan tersebut.

Kesimpulannya, homeschooling memang memberikan banyak manfaat. Apalagi homeschooling SMA mempersiapkan anak agar lebih fokus menghadapi ujian sehingga bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Namun, beberapa faktor di atas harus dipertimbangkan untuk memastikan apakah homeschooling memang metode belajar paling tepat bagi anak Anda.